Alur Pengujian Mudah

Alur Pengujian Mudah

Periksakan produk pangan asal hewan dan olahan yang ingin anda uji di sini Klik »

Administrasi Mudah dan Nyaman

Administrasi Mudah dan Nyaman

Pelayanan cepat dan nyaman Klik »

Laboratorium Terakreditasi

Laboratorium Terakreditasi

Laboratorium kami terakreditasi ISO/IEC 17025:2008 Klik »

Telah hadir buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan

Telah hadir buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan

Silahkan di klik untuk mendownload. Gratis Klik »

Bebas Gratifikasi dan Korupsi

Bebas Gratifikasi dan Korupsi

Kami bebas dari Gratifikasi dan Korupsi. Siap melayani anda dengan profesional. Klik »

 

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK PANGAN ASAL HEWAN ASAL HEWAN (PAH) DENGAN MODEL ARRHENIUS DAN PELABELAN DALAM KEMASAN

Oleh: R. Irsyad Fauzi

as

PENDAHULUAN

Kriteria atau  komponen  mutu  yang penting pada produk pangan asal hewan salah satunya adalah umur simpan. Peraturan mengenai penentuan dan labelisasi umur simpan atau masa kadaluarsa bahan pangan asal hewan  terdapat dalam  UU Pangan asal hewan No.7 Pasal 30 tahun 1996 dan PP No. 69 Pasal 3 tahun 1999. Pengertian umur simpan adalah waktu yang diperlukan oleh produk pangan dalam  kondisi penyimpanan tertentu untuk dapat mencapai tingkatan degradasi mutu tertentu. (Floros, 1993) dalam (Herawati, 2008)

PARAMETER UMUR SIMPAN

Menurut Rahayu et al. (2003) bahwa mutu produk dianggap dalam  keadaan 100% (usable quality) pada saat baru diproduksi dan akan menurun selama penyimpanan, maka suatu saat nilainya akan mendekati titik tertentu dimana kualitas yang diharapkan tersebut tidak dimiliki lagi oleh produk pangan asal hewan tersebut. Selama penyimpanan dan distribusi, produk pangan asal hewan akan mengalami kehilangan bobot, nilai pangan asal hewan, mutu, nilai uang, daya tumbuh, dan kepercayaan. Usable quality dari produk pangan asal hewan dapat berupa atribut seperti tekstur, flavor, warna, penampakan khas atau khusus, nilai gizi, dan standar mikrobiologis (jumlah dan jenis mikroba tertentu).

Update Terbaru : Buletin, Peta Statistik Terbaru

Buletin Edisi 1 Vol. 7: https://drive.google.com/open?id=0B9rD9LpAa19eVXhiU2VvNEd4TUk

cover-depan-v1

  1. Pengetahuan Kalibrasi dan Pemeliharaan Peralatan Laboratorium
  2. Antara Susu UHT, Susu Pasteurisasi dan Susu Bubuk, Mana Yang Lebih Baik?
  3. Pengelolaan dan Pengolahan Limbah Laboratorium
  4. Minimisasi Limbah dari Laboratorium
  5. Teknik Lain Untuk Memperbanyak DNA Dengan Menggunakan Metode LAMP
  6. Mengenal Prinsip, Terminologi dan Aplikasi RT-PCR
  7. Pendugaan Umur Simpan PAH dengan Model Arrhenius dan Pelabelan Dalam Kemasan
  8. Residu Pestisida pada Susu Segar

Sosialisasi ISO 9001:2015

Dalam rangka meningkatkan kinerja, efektivitas dan efisiensi serta meningkatkan pelayanan, Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan  Sistem Manajemen Mutu menyelenggarakan sosialisasi ISO 9001:2015 mulai dari struktur hingga dokumentasi,.

Penerapan sistem manajemen mutu dapat memberikan berbagai manfaat bagi unit kerja, dapat meminimalisir kesalahan dalam suatu pekerjaan yang berarti mengurangi pekerjaan ulang dan meningkatkan produktivitas kerja yang dapat meningkatkan efisiensi unit kerja. Penerapan sistem manajemen mutu dan sertifikasinya bagi para penyedia jasa telah menjadi tuntutan dalam menghadapi pasar global yang semakin kompetitif sehingga perlu menempatkan sistem mutu pada manajemen yang dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Peresmian Gedung Pusat BIMTEK Lab. Kesmavet dan Laboratorium BPMSPH

_mg_6941

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Drh. I Ketut Diarmika, MP. meresmikan Gedung Pusat Bimbingan Teknis Kompetensi Laboraorium Kesehatan Masyarakat Veteriner  Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Bogor.  Acara peresmian yang dilakukan pada tanggal 19 November 2016 ini bersamaan dengan Seminar Antibiotik Awareness Week yang digelar di Gedung Pusat Bimbingan Teknis Kompetensi Laboraorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Beliau memberikan apresiasi yang sangat baik dengan dibangunnya 2 (dua) sarana gedung tersebut.

Peresmian gedung ini secara simbolis ditandai dengan ditandatangani Batu Prasasti  dan pengguntingan pita serta pemotongan tumpeng oleh Direktur Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Drh. I Ketut Diarmika, Mp. didampingi oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Drh. Sri Mukartini, MappSc. serta Kepala BPMSPH Drh. Rr. Endang Ekowati, Setelah itu dilakukan peninjauan ke-2 gedung tersebut.

Bijak dalam Penggunaan Antibiotik

img_0101

Resistensi antimikroba menjadi perhatian yang serius bagi Indonesia Khususnya Kementerian Pertanian karena ancamanya yang tidak mengenal batas-batas geografis dan berdampak pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, peternakan dan pertanian. Resistensi antimikroba ditandai dengan munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan antibiotik  sehingga infeksi menjadi sulit disembuhkan.

_mg_6800

“ penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak rasional, baik dari sektor peternakan, perikanan, perikanan, dan kesehatan masyarakat veteriner menjadi pemicu munculnya resitensi antikikroba. Antibiotik memang dibutuhkan untuk mengobati penyakit hewan, namun pengguanaanya yang tidak bijak dan berlebihan dapat menimbulkan resitensi antimikroba” sambutan Drh. I Ketut Diarmita, MP Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian dalam pembuakaan seminar bertajuk Kampanye pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia di Gedung Aula Bimtek Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan Bogor, 19 November 2016.

Seminar yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat, Kementerian Pertanian Bekerja sama dengan Institut Pernaian Bogor (IPB) ini mengusung tema “Membangun Kepedulian Profesional Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba Melalui Penggunaan Antibiotik yang Bijak dan Bertanggungjawab” yang merupakan puncak acara dari serangkaian acara yang berlangsung dari tanggal 14-19 November 2016.